Info

KEBAKTIAN KEBANGUNAN ROHANI  ANAK-ANAK

Diselenggarakan oleh Pelnap Wilayah X

Sabtu, 02 Februari 2013

Pukul 15.00 WIB

GPdI Rajawali 

Pendaftaran dapat dilakukan

pada seluruh Guru Sekolah Minggu

dengan biaya Rp. 5.000,- / orang

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ringkasan Khotbah, Minggu 20 Januari 2013

MENANTI KEDATANGAN TUHAN

DALAM DOA DAN PENYEMBAHAN

Pdt. DR. (Th) Benny Y. Tambuwun, MM, MA, M.Th, Th.M, D.Min

 

 

Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak….

Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu,

tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan…

Lalu Abraham mendirikan mezbah…Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya,

lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya…Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu…

Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya…

Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.,

Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan…

 “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Kejadian 22:6-14

Tuhan Yesus akan datang. Itulah janji Tuhan bagi kita yang belum digenapi dan selalu kita tunggu hingga saat ini. Waktunya memang sudah tidak lama lagi. Namun kedatangan Tuhan yang kedua kali ini tidak boleh ditunggu dengan pasif, melainkan jemaat Tuhan harus aktif. Bagaimana cara yang benar dan tepat untuk menanti kedatangan Tuhan? Mari kita belajar dari seorang pahlawan iman dalam sejarah di Alkitab.

Ayat pokok kita di atas menceritakan tentang pengalaman hidup Abraham bersama Tuhan. Ayat yang ke-14 merupakan ungkapan pengalamannya dengan Tuhan secara langsung, yaitu Abraham berkata dengan iman bahwa Allah menyediakan (Jehovah Jireh). Tentulah perkataan itu tidak serta merta keluar dari mulut Abraham begitu saja. Abraham pasti melalui beberapa proses sampai ia mengalami pengalaman tersebut dan dia selalu mentaati perintah Tuhan dalam menjalani proses tersebut. Pada ayat 6, ketika Allah memerintahkan Abraham untuk mendirikan mezbah dengan Ishak sebagai korban bakaran pada Allah, Abraham langsung mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan ia berangkat menuju Moria. Dalam perjalanan menuju gunung Moria tempat mezbah itu akan didirikan, terjadi percakapan yang menunjukkan siapa Abraham sebenarnya(ay 7-8). Pada saat Ishak bertanya mengenai domba yang akan dikorbankan, Abraham menjawab bahwa Allahlah yang akan menyediakan korban itu. Di sini kita dapat melihat betapa kuat iman Abraham kepada Allah walau apa yang diucapkannya saat itu tidak tampak secara nyata. Ada dua hal yang dapat kita lihat dalam kejadian ini, yaitu ketaatan Abraham dan ekspresi iman Abraham. Pada ayat 5 ada hal yang Abraham ucapkan pada kedua bujangnya, yaitu bahwa ia akan sembahyang dan menyuruh budaknya untuk menunggunya. Abraham sudah tahu sebelumnya bahwa yang akan dikorbankan disana adalah Ishak. Tapi Abraham tidak membicarakan bahwa Ishaklah yang akan dikorbankan. Ia hanya berkata pada bujangnya, “setelah kami sembahyang, KAMI AKAN KEMBALI”. Abraham sedang berjalan dengan imannya. Kata kunci dari ayat ini adalah kata SEMBAHYANG. Hal ini meunjukkan bahwa apa yang Abraham alami adalah hasil dari sembahyang. Secara tidak langsung Abraham menyatakan bahwa Ishak tidak akan ditinggalkan di gunung Moria.

Dalam masa perjanjian lama, pengalamaan rohani seseorang selalu terjadi karena mengalami perjumpaan dengan Allah. Demikianlah Abraham, pengalamannya membuktikan bahwa ia memiliki hubungan yang nyata bersama Tuhan. Ada suatu kedekatan rohani antara Abraham dengan Allah sehingga ia menyebut Allah sebagai Yehovah Jireh. Semua yang dialami Abraham, domba yang disediakan Tuhan untuk dikorbankan merupakan akibat. Kita perlu melihat sebuah awal dibalik akibat-akibat yang Abraham alami adalah SEMBAHYANG.

Apa yang dialami Abraham di atas gunung Moria itu menjadi suatu teladan. Kondisi ini tidak berhenti sampai pada Abraham, tetapi terjadi secara turun temurun kepada keturunannya. Salah satunya adalah Salomo. “Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yakni di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu.“ (II Tawarikh 3:1). Salomo .mendirikan Rumah Tuhan di Moria karena Daud, ayahnya yang menetapkan tempat itu, juga memiliki pengalaman pribadi bersama Tuhan di tempat itu. Pada waktu itu juga Daud mempersembahkan korban di sana, ketika ia melihat, bahwa TUHAN telah menjawab dia di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu…tetapi Daud tidak berani pergi ke sana berhadapan dengan Allah… Lalu berkatalah Daud: “Di sinilah rumah TUHAN, Allah kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel.” (1 Tawarikh 21:28-22:1). Inilah peristiwa yang mendasari ketetapan Daud untuk mendirikan mezbah di gunung Moria ketika Allah murka. Daud mempersembahkan korban dan murka Allah surut. Begitu murka Allah surut karena mezbah yang Daud dirikan, saat itulah Daud mengalami pengalaman nyata bersama Tuhan. Apa kaitannya Abraham dengan Daud berkenaan dengan gunung Moria? SEMBAHYANG. Itulah benang merah yang menghubungkan mereka yang terpisah oleh waktu selama beberapa generasi. Apapun prosesnya, inti dari peristiwa-peristiwa ini adalah SEMBAHYANG, yaitu interaksi secara langsung antara Allah dengan umat kepunyaanNya. Sembahyang berasal dari kata Proskuneo, yang digambarkan seperti anjing yang menjilati tangan tuannya untuk mendapat kasih sayang tuannya. Semangat sembahyang itu harus kita miliki agar kita dapat mendekati Tuhan.

Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan …Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji TUHAN…Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan, sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah Allah.” (2 Tawarikh 5:13-14). Umat  Tuhan  harus mempunyai nyanyian dalam hidupnya. Nyanyian untuk memuliakan Allah. Biasakanlah dalam hidup kita sehari-hari untuk selalu memuji Tuhan dalam berbagai kesempatan. Karena saat pujian naik kepada Allah, awan kemuliaan Allah akan memenuhi hidup kita. Inilah ibadah yang sempurna.

Kemudian berdirilah ia di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, lalu menadahkan tangannya…ia berdiri di atasnya lalu berlutut di hadapan segenap jemaah Israel dan menadahkan tangannya ke langit” (2 Tawarikh 6:12-13). Pada masa Perjanjian Lama banyak korban yang diberikan kepada Allah dalam cara sembahyang mereka agar mendapat kasih dan pengampunan Allah atas setiap dosa dan perbuatan mereka. Namun dalam Perjanjian Baru Allah menyediakan “tubuh”Nya sendiri supaya kita dapat masuk ke dalam ruang Maha Kudus. Mengapa demikian? Mereka melakukan ritual sembahyang hanya sebagai kebiasaan belaka, tanpa memiliki hubungan secara pribadi dengan Allah, hingga sembahyang mereka bergeser menjadi sebuah tradisi. Itulah sebabnya ada tertulis, “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki… oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri” (Ibrani 10:5,19-20). Oleh darah Yesus kita telah beroleh ijin unuk masuk dalam tempat kudus di belakang tabir itu. Tubuh Yesus itu dilambangkan sebagai tirai yang membatasi ruang kudus dan ruang maha kudus. Darah Yesuslah yang menjadi penghubung kita dengan Allah dan itu hanya dapat dilakukan secara pribadi. Bukan sekedar ritual dan tradisi semata.

Dari hal ini yang dapat kita lihat adalah lewat doa kita dapat masuk ke tempat maha kudus untuk melihat kemuliaan Allah. Saat Abraham sembahyang, ada korban yang disediakan agar ia sampai ke hadirat Allah. Ada suatu korban yang harus diberikan pada Allah agar sembahyang kita didengarNya. Bagaimana manusia dapat masuk dalam kemuliaan Allah? Dengan bersembahyang. Akibat yang diterima Abraham atas imannya adalah Tuhan berjanji bahwa ia akan diberkati dan keturunannya juga akan menjadi berkat bagi bangsa bangsa. ”…Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri…Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” Penggenapannya ada pada Yesus. Inilah konsep keselamatan, yaitu iman kepada Yesus dan menerima Roh yang dijanjikan. ”Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3:14). Roh Allah adalah berkat terbesar dari Tuhan bagi kita. Jagalah keberadaan Roh Allah yang ada pada kita. Pekerjaan Roh Allah sangat supranatural. PekerjaanNya tidak dapat dihentikan oleh manusia, tetapi dapat berhenti bekerja pada orang-orang tertentu ketika mereka hidup tidak berkenan pada Allah. Hanya dengan SEMBAHYANG saja kita dapat menjaga pekerjaan Roh Allah itu tetap tinggal dalam hidup kita sehingga kita dapat mengalami Jehovah Jireh. Dunia membutuhkan orang yang penuh dengan Roh Allah. Roh Allah akan mengubah seseorang, memampukan seseorang sehingga mereka mampu memelihara orang lain. Bangunlah kehidupan yang berdoa, merendahkan diri di hadapan Allah, memuji dan memuliakan Allah, dan disanalah kita akan diberkati dan memberkati orang lain.

AMIN

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Renungan

Tuhan Menjadikan Segala Sesuatu Baru
Pdt. Albert Papuas

Yesus akan datang kembali untuk yang kedua kali. Namun sebelum Kristus datang, antiKris akan muncul untuk menguasai bumi dengan segala pemerintahannya. Bagi orang-orang yang penuh Roh Kudus dan hidup berkenan pada Allah, akan mengalami penyingkiran dan tidak mengalami masa aniaya hebat yang terjadi pada waktu itu. Bersamaan dengan itu, segala sesuatu akan Tuhan pulihkan lebih dahulu. Saat ini kita hidup di zaman kemurahan Allah, apa saja yang Dia jadikan baru?

1.      Manusia Baru

Keadaan manusia saat ini telah kehilangan kemuliaan Allah karena dosa. Itulah sebabnya Allah perlu memulihkan keadaan manusia sebelum kedatanganNya yang kedua kali. Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah…Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Manusia baru yang dipenuhi oleh Roh pasti berbeda dengan saat manusia tidak penuh dengan Roh (Efesus 4:17-32). Roma 6:3-5 menyatakan bahwa kehidupan kita yang lama telah mati bersama Kristus dan bangkit bersama dengan kebangkitan Kristus. Kita akan diubahkan dan tinggal dalam kemuliaan bersama Kristus (1 Korintus 15:51-52).

2.      Rumah Baru

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal…Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” (Yohanes 14:2-3). Allah sendiri telah menyediakan rumah bagi kita. Rumah yang kekal yang tidak akan habis dimakan oleh ngengat dan karat.

3.      Langit dan Bumi Baru

Kejadian 1-2 menceritakan bagaimana ciptaan Allah pada awalnya adalah baik. Namun dosa bukan hanya merusak gambar Allah dalam manusia, tetapi juga seluruh alam semesta pun mengalami kerusakan. Banyak bencana terjadi karena dosa. “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap…Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.” (2 Petrus 3:10,12). Namun Allah berjanji akan menjadikan Langit dan Bumi yang baru  (Wahyu 21-22)

4.      Yerusalem Baru

Yerusalem menggambarkan tempat persekutuan Allah dengan umatNya. Kondisi Yerusalem amat memilukan karena dosa. “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. 38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” (Matius 23:37-38). Seperti Allah akan memulihkan umatNya, menyediakan Rumah bagi anakNya, membangun Langit dan Bumi yang baru, demikian Allah juga akan memulihkan Yerusalem menjadi baru. (Wahyu 21:2,10-11). Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kita harus hidup. Mari kita merespon pemulihan Allah ini supaya kita siap ketika Yesus datang untuk kedua kalinya. MARANATHA

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ringkasan Khotbah, Minggu 13 Januari 2013

LAKUKANLAH YANG BAIK

Drg. August Tandean

 

“karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman.

Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.”

Kisah Para Rasul 11:24

 

Kurun waktu yang kita alami, sejak awal sampai saat ini adalah berkat dan karunia Tuhan atas hidup kita. Jika kita boleh masuk di tahun yang baru ini, maka semuanya itu adalah karena kemurahan Tuhan. Lalu bagimana dengan komitmen kita kepada Tuhan? Apakah kita telah melakukan semua komitmen kita yang pernah kita ketakan kepada Tuhan? Tuhan ingin agar waktu yang Tuhan berikan ini dapat kita pergunakan, agar kita dapat menjadi berkat bagi sesama. Paulus di akhir hidupnya telah menyelesaikan semua tugas-tugasnya dengan baik. Lalu bagaimana dengan kita? Mata Tuhan mengawasi semua yang kita kerjakan di dalam kehidupan kita dan apapun yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan kelak.

Tuhan ingin setiap manusia dapat menjadi berkat, tapi yang terjadi pada akhir zaman ini adalah manusia semakin hari semakin bertambah jahat. Hati manusia selalu cenderung melakukan kejahatan. Pengkhotbah 8:11 menulis : “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat.” Sebagai anak Tuhan, Allah selalu memberi kemampuan kepada kita untuk menjadi pelaku firman. Karakter yang tidak cacat menjadi modal utama bagi anak Tuhan agar kita mampu bertahan di dalam generasi yang bengkok hatinya ini. Hukum Allah belum dilaksanakan, itulah sebabnya manusia masih berkecimpung dalam perbuatan dosa yang melawan Tuhan. Seiring dengan menuanya bumi yang kita diami ini, demikian dosa manusia semakin menumpuk sampai pada puncaknya. Namun kehendak Allah atas kita adalah hidup berkemenangan. Bukan jatuh dan jatuh lagi dalam kubangan dosa, melainkan bangkit dan melawan dosa.

Dahulu, pada saat banyak orang ingin menyalibkan Yesus, ada satu karakter jahat yang dibandingkan dengan Yesus oleh Pilatus dengan harapan bahwa Yesus akan lolos dari tuntutan penyaliban. Namun orang banyak lebih memilih Barabas yang jahat untuk dibebaskan daripada Yesus yang tidak berbuat kesalahan apapun. Saat ini, situasi seperti itu sudah menjadi hal biasa. Orang jahat memiliki hidup yang lebih aman, nyaman dan didukung oleh banyak orang. Namun demikian, berhati-hatilah karena setiap perbuatan jahat itu dikontrol dan diperhatikan oleh Tuhan.

Kejadian 1:4,27-31 menuliskan : “Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya…laki-laki dan perempuan…Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi…Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan…menjadi makananmu…Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Penciptaan.yang Tuhan lakukan itu dilihatNya baik, terlebih saat penciptaan manusia, Tuhan melihat bahwa manusia yang diciptakanNya itu sangat baik. “Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita. (2 Korintus 1:21-22). Harus ada produk Roh Kudus yang dihasilkan jika kita mengaku telah hidup di dalam Roh. Memang, kebaikan tidak hanya dapat dilakukan oleh orang-orang Kristen. Banyak orang yang tidak tinggal dalam Roh yang melakukan kebaikan. Terkadang orang yang hidup di luar Tuhan justru memiliki hati yang baik dibanding anak Tuhan. Namun kecenderungannya adalah secara horizontal dan bertujuan untuk mendapatkan imbalan surga. Jika mereka yang belum tinggal dalam Roh saja mampu melakukan hal-hal baik yang berkenan pada Tuhan, apalagi seharusnya kita yang telah hidup di dalam Roh. Kita harus memiliki mutu hidup yang lebih tinggi / baik dibandingkan dengan mereka. Itu adalah prinsip hidup yang harus dimiliki oleh setiap anak Tuhan, dan harus dilakukan ketika ada yang melihat atau tidak, diperintah atau tidak.

Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.” (Kisah Para Rasul 4:36-37). Barnabas adalah orang yang baik dan mau berkoban untuk Tuhan. Barnabas adalah orang yang membuat Paulus diterima di saat orang menolak Paulus. Ia adalah teman baik Paulus dalam menginjil. Allah sangat memerlukan pribadi-pribadi seperti Barnabas untuk dapat menyatakan kuasa dan kemuliaanNya di dunia. Tuhan ingin agar kita memiliki kebaikan secara horizontal tetapi terlebih kebaikan vertikal yaitu antara pribadi kita dengan Tuhan. Periksalah keadaan diri kita masing-masing, apakah karakter kita sudah sesuai dengan kehendak Allah. Hidup di dalam terang Tuhan.

Apakah yang akan terjadi ketika kita menjadi orang yang baik? Mazmur 37:23-24 berkata bahwa Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya. Tuhan akan mem-back up kita jika kita hidup berkenan di hadapanNya. Amsal 12:2 menuliskan bahwa orang baik dikenan Tuhan dan meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar (Amsal13:22). “Orang yang murtad hatinya menjadi kenyang dengan jalannya, dan orang yang baik dengan apa yang ada padanya.” (Amsal 14:14). Rasul Paulus berkata di dalam Filipi 4:11-13 “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Satu hal yang pasti adalah bahwa Allah mengawasi kehidupan kita. Dunia tidak akan semakin baik, namun orang yang kudus akan semakin kudus dan hanya dengan kekudusan kita dapat berjumpa dengan Allah. AMIN

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Renungan

WAKTU MENYENDIRI DENGAN ALLAH

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu

menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.

Markus 4:10

 

Banyak orang menggunakan waktu sebagai moment untuk melakukan sesuatu. Tidak peduli apakah itu sesuatu yang baik atau buruk. Waktu sering dipakai sebagai pengingat terhadap suatu kejadian dalam hidup manusia yang tidak akan dilupakan oleh manusia karena dalam penanggalan manusia akan selalu diulang setiap setahun sekali.

Tidak selamanya menunggu waktu akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Tidak jarang malah berakibat fatal. Mengapa? Karena waktu memiliki ruang yang luas terhadap terjadinya perubahan situasi yang mungkin tidak kita sadari. Kalau hasil yang didapat sesuai dengan yang diharapkan maka menunggu waktu akan mensejahterakan manusia namun sebaliknya bila tidak sesuai dengan yang diharapkan tidak jarang menghasilkan keterpurukan.

Orang bijak memiliki kemampuan menentukan waktu yang tepat untuk menentukan langkah karena dia bisa memisahkan waktu secara penanggalan dengan waktu hakiki. Waktu menurut penanggalan adalah waktu yang dibentuk oleh kesepakatan manusia seperti, menit, jam, bulan dsb. Sedangkan waktu hakiki adalah saat yang tidak didasarkan atas komitmen manusia namun dilandasi oleh penyesuaian kondisi dan situasi. Tidak mudah memilih waktu mana yang dipakai untuk memutuskan sesuatu. Hidup adalah masalah pilih memilih, dan waktu juga pilih memilih. Keputusan dalam memilih dalam waktu akan menunjukkan siapakah kita, manusia yang dikendalikan oleh waktu atau manusia yang mengendalikan waktu?

Ketika Allah membuat kita memiliki waktu menyendiri melalui penderitaan, kesedihan, godaan, kekecewaan, sakit atau hasrat yang terhalang, persahabatan yang retak, atau persahabatan baru – ketika Dia benar-benar membuat kita menyendiri, dan kita benar-benar kehilangan kata-kata, bahkan tidak sanggup mengajukan sebuah pertanyaan apapun, maka pada saat itulah Dia mulai mengajar kita. Perhatikanlah cara Yesus Kristus mengajar kedua belas murid-Nya. Para murid-Nya terus-menerus mengajukan pertanyaan, dan dia terus-menerus menjelaskan kepada mereka, tetapi mereka tidak memahaminya sampai mereka menerima Roh Kudus (Yohanes 14:26).

Selama kita memiliki waktu untuk berjalan dengan Tuhan, satu-satunya hal yang ingin dijelaskan-Nya adalah cara Dia bekerja dengan jiwa kita. Kita menyangka bahwa kita dapat memahami pergumulan orang lain sampai kemudian Allah menyingkapkan kekurangan-kekurangan serupa di dalam hidup kita. Ada banyak segi kekerasan hati dan ketidaktahuan yang harus disingkapkan Roh Kudus dalam diri kita masing-masing, tetapi itu hanya dapat dilakukan bila Yesus membuat kita memiliki waktu untuk menyendiri. Apakah kita sedang menyendiri bersama Dia sekarang? Atau kita lebih mementingkan gagasan, persahabatan dan pemeliharaan tubuh kita sendiri? Yesus tidak dapat mengajarkan apapun kepada kita sebelum kita meniadakan semua pertanyaan intelektual kita lalu menyendiri bersama Dia. IMMANUEL

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ringkasan Khotbah, Minggu 06 Januari 2013

LAKUKANLAH YANG BAIK

Pdt. Hendrik Runtukahu

 

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,

hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Mazmur 90:12

 

Hidup ini terus menerus berjalan hingga batas waktu tertentu, hidup itu akan berakhir. Pemazmur mengatakan bahwa umur manusia hanya berkisar antara 70 – 80 tahun saja. Sebagai manusia, kita perlu merenungkan dengan seksama perjalanan hidup kita ini. Melalui firman Tuhan kita dapat menilai apa yang perlu dikurangi dan apa yang perlu ditambah. Apa yang merugikan hidup kita dan apa yang menguntungkan bagi hidup kita. Di bagian manakah dalam kehidupan kita yang mengalami kebocoran. Kita sendirilah yang dapat ’mengaudit’ kehidupan kita.

1.      Mengurangi perbuatan jahat

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.“ (Yohanes 3:30). Kita harus biisa mengintropeksi diri kita sendiri. Semua hal yang dapat mereduksi / menurunkan iman kita, kasih yang berlebihan terhadap sesama, kemalasan, temperamen yang buruk, hal-hal yang tidak penting dan mengikat, hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan sehingga kita tidak dapat total dalam melayani Tuhan, kesalahan dan pelanggaran yang biasa kita lakukan dan kebiasaan-kebiasaan buruk / merugikan hidup kita harus kita kurangi / dihilangkan.

Kita memiliki Roh Allah dalam diri kita, usahakan dengan keras untuk melawan hal-hal yang tidak baik tersebut di atas. Ini akan sangat mempengaruhi keadaan / kualitas rohani kita. Dosa selalu mengintai. Ia dapat menjatuhkan kita sewaktu-waktu jika kita memberi kesempatan / celah sehingga dosa masuk ke dalam hidup kita. Hal-hal buruk yang kecil jika tidak dicegah akan berkembang menjadi kebiasaan besar yang susah untuk ditanggulangi. Tabiat dosa pada dasarnya sudah ada dalam diri manusia. Walaupun sudah hidup taat kepada Tuhan, namun ada potensi untuk dosa itu muncul. ”Karena itu matikanlahdalam dirimu segala sesuatu yang duniawi,yaitu percabulan,kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan,yang sama dengan penyembahan berhala.“ (Kolose 3:5). Matikanlah potensi untuk berbuat dosa dalam hidup kita. Padamkanlah api dosa dalam hati sekecil apapun bentuknya. Periksalah senantiasa keadaan kita, evaluasilah supaya pertumbuhan rohani kita dapat berjalan dengan baik sehingga kita dapat menghasilkan buah Roh yang manis dan menyenangkan hati Tuhan. Kurangi hal-hal yang buruk, tingkatkan hal-hal yang baik. Mengucap syukurlah dalam segala hal. Ucapan syukur memiliki kekuatan yang berkuasa untuk mengubahkan keadaan. Cobalah untuk melakukannya.

2.      Menambah perbuatan baik

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6:9-10). Amsal 11:24 menulis bahwa ada orang-orang yang menyebar harta, tetapi mereka bertambah kaya, tetapi ada juga yang menghemat secara luar biasa, namun mereka selalu berkekurangan. Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa ia akan diberkati dan memberkati. Abraham tidak hanya akan menerima begitu banyak berkat, tetapi lebih dari itu, ia juga menabur / memberi berkat kepada banyak orang. Jangan berhenti menabur dan jangan menjadi sombong atasnya. Perbuatan baik kita harus kita tingkatkan agar semua orang dapat merasakan kebaikan dan kemurahan Tuhan. “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” (2 Petrus 1:5-7).

Daniel 12:4 mengatakan bahwa segala firman akan disembunyikan dan dimeteraikan sampai pada akhir zaman dan pada akhir zaman akan ada banyak orang yang menyelidikinya sehingga pengetahuan akan bertambah. Galilah keajaiban pengetahuan firman Tuhan, supaya kita dapat mengerti firman Tuhan. Pelajarilah, pertahankanlah dan lakukanlah. Rasul Paulus memiliki beban agar jemaat di Tesalonika terus menambah apa yang masih kurang pada iman mereka. ”Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.” (1 Tesalonika 3:10). Jangan suam-suam kuku dalam mengikut Tuhan. Jangan sampai iman kita menjadi lemah karena tidak terpelihara.

3.      Lipat gandakan buah pertumbuhan kerohanian kita

Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya…Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya…pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta…berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya…pulanglah tuan hamba-hamba itu…Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta… Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya:…lihat, aku telah beroleh laba dua talenta…datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata…aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan” (Matius 25:14-25). Kita tidak dapat luput dari pertanggungjawaban terhadap Allah. Suatu saat Tuhan akan menuntut apa yang telah Ia percayakan kepada kita. Apa yang dilakukan oleh hamba yang terakhir itu tampaknya benar, dia menyimpan talenta yang dipercayakan tuannya agar tidak hilang. Namun ternyata bukan demikian cara yang berkenan di mata tuannya. Setiap talenta yang Tuhan telah percayakan kepada kita sebagai hamba,  harus kita kerjakan dan lipatgandakan. Tuhan memberikan kepada setiap kita minimal 1 talenta. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak bekerja bagi Tuhan. Jangan sembunyikan talenta kita. Pergunakan setiap talenta yang sudah Tuhan percayakan pada kita dan lipat gandakanlah untuk kebesaran nama Tuhan.

HALLELUYA

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Renungan Awal Tahun, Selasa, 01 Januari 2013

AIRMATA HANA

Oleh : Pdt. Hendrik Runtukahu

”dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”

1 Samuel 1:10-11

Hana, seorang wanita yang tersisih. Kandungannya tertutup dan ia tidak dapat menghasilkan keturunan. Pada masa itu, bila seorang perempuan tidak dapat memberikan keturunan, maka ia adalah golongan perempuan yang beraib, terkucil dan tidak memiliki harga diri dalam masyarakat dan keluarganya. Di sisi lain, Penina, madunya, seringkali menghinanya. Hana mengalami tekanan yang berat dan rasa malu. Karena itulah Hana mengambil keputusan untuk berdoa. Ia berdoa dengan hati yang hancur. Doa yang disertai dengan perasaan susah dan hancur hati menarik Allah untuk datang menghampiri. Ada beberapa poin yang membuat doa Hana dijawab Tuhan :

  1. 1.       Hana menepati nazarnya kepada Tuhan

Hana berjanji / bernazar kepada Tuhan dan ketika setahun kemudian Tuhan memberinya seorang anak yang ia namai Samuel, Hana tidak melupakan janjinya. Ia menepati apa yang menjadi nazarnya. “Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.” (Mazmur 56:13). Ketika Samuel cerai susu, Hana mengantar Samuel ke bait Allah. Ia  menghadap ke hadirat TUHAN  dan menyerahkan Samuel kepada Tuhan.  Mereka sujud menyembah Tuhan dan tinggallah Samuel di Bait Allah seumur hidupnya (1 Samuel 1:22,28). Mengenai nazar, Pengkhotbah berkata bahwa jika kita bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Tuhan tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazar kita. Lebih baik kita tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. Janganlah mulut kita membawa kita ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa kita khilaf. Tidak perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapan kita dan merusakkan pekerjaan tangan kita  (Pengkhotbah 5:3-5).

  1. 2.      Doa Hana berkenan di hadapan Tuhan

Hana meminta sesuatu yang tidak hanya untuk kebutuhan dirinya sendiri. Tetapi ia meminta sesuatu yang kelak akan ia pergunakan untuk kemuliaan Tuhan. Terkadang kita berdoa untuk sesuatu yang menjadi keinginan kita saja tetapi tidak ada kontribusinya untuk kebesaran nama Tuhan. Kita berdoa untuk kepentingan pribadi kita yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:3).

Paulus mengajar kita untuk berdoa dengan roh dan pikiran yang baik. Jangan bertele-tele dan sembarangan. Tuhan mengajar kita melalui Hana bagaimana doa yang seturut dengan kehendak Tuhan. Permohonan yang juga kita pakai untuk kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan karena kita mengasihi Tuhan. ”…Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37). Bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah dengan mempersembahkan apa yang menjadi milik kita yang berharga kepada Tuhan. Tuhan tidak melarang kita untuk memiliki sesuatu, namun Allah sangat berkenan ketika kita tidak terikat dan dapat dengan tulus hati mempersembahkannya pada Tuhan karena kita mengasihi Dia. ”Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:37).

Abraham mempersembahkan Ishak anak satu-satunya kepada Tuhan dan tindakan Abraham tersebut berkenan di hadapan Tuhan. Tidak mungkin Allah menuntut kita tidak mengasihi keluarga, namun memberhalakan keluarga kita dan meminggirkan Allah adalah kekejian. Segala sesuatu yang berkenaan dengan ’berkorban’ pasti menyakitkan. Tetapi korban dengan hati yang tulus akan menyenangkan hati Tuhan. Seperti persembahan janda miskin yang mendapatkan pujian dari Yesus (Markus 12:41-44). Jangan takut untuk memberikan hal yang berharga pada Tuhan. Lakukanlah… Tuhan tidak pernah berdusta dan tidak pernah lalai menepati janjiNya. Akan ada berkat bagi setiap orang yang berkorban dengan hati yang tulus.

Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” (2 Timotius 3:1). Manusia akan lebih mementingkan dirinya sendiri. Pleoneksia adalah kehausan untuk selalu memiliki lebih banyak. Manusia selalu merasa kurang dan merasa tidak pernah puas. Teladanilah Hana yang memiliki doa yang berkenan di hadapan Tuhan dan membayar nazarnya. Setelah Hana melakukan apa yang menjadi janjinya, Tuhan mengaruniakan kepadanya dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan lagi.

Dalam Mazmur 40:6, pemazmur berkata : ”Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.” Begitu besar kasih Allah kepada kita, muliakanlah Allah dengan apa yang menjadi milik kita. Kita tidak akan pernah berkekurangan ketika kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan, melainkan sebaliknya, Allah akan memukan pintu-pintu berkat bagi setiap pribadi yang mengasihiNya. ”Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” (Amsal 3:9-10).

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar